Posterous theme by Cory Watilo

Ketika Rabhithah Menyatukan Kita

Doa_solat_lima_waktu-1

Ya Allah, Engkau telah mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu

Telah berjumpa dalam taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,

Telah bepadu dalam membela syariat-Mu, kukuhkanlah Ya Allah, ikatannya.

Kekalkakanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan Nur cahaya-Mu,

Yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu

Dan keindahan bertawakal kepada-Mu. Nyalakanlah hati kami dengan bema’rifat kepada-Mu.

Matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu. Sseungguhnya engkaulah sebaik-baik pelindung

Dan sebaik-baik penolong. Ya Allah. Amin. Sampaikanlah kesejahteraan, ya allah, pada junjungan kami

Muhammad keluarga dan sahabat-sahabatnya, dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan.

 

Demikianlah sepenggal do’a yang saya dan mereka biasa mohonkan, dengan satu tujuan, semoga persahabatan ini dilandasi iman dan taqwa dan kesatuan hati ini selalu diiringi oleh ridho-Nya. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, menganugrahi saya orang-orang hebat seperti mereka.

Rabhitah, ya sepenggal do’a sederhana, yang sadar atau tidak sadar menjadi fondasi pertahanan kami, menjadi pusat garis edar kami, menjadi katalisator ukhuwah kami. Ya itu dia Rabhitah, yang mengingatkan kami bahwa banyak yang harus diperbaiki dari perjalanan ini, yang menjadikan kami memahami bahwa segala sesuatunya memang harus dikoordinasikan dengan Allah, termasuk kelompok kecil ini. Ya sekali lagi, itu dia Rabhitah. Rabhitah? Ya Rabhithah, bukan namanya yang penting, bagi kami ini kebutuhan, analoginya, kelompok kecil ini adalah ponsel dan Rabhithah adalah pulsanya, ponsel ini, secanggih appapun itu, apakah sudah “tidak pakai” android lagi, tapi kalau tidak ada pulsa dan sinyalnya, semuanya sia-sia.

 

 

 

 

Perisa Hati

 

 

Masih belum selesai. Tugas grammarscript speech, dan rangkaian pandangan dangkal, yang mungkin tidak akan lebih berguna selain hanya dalam kelas Kewarganegaraan, di gedung baru tanpa sejengkal lapangan parkir itu. Sudahlah, saya lebih tertarik bermain dengan hentakan nada keyboard pagi ini. Lupakan juga dosen Structure III yang super iseng membenamkan kami pada 3 Chapter buku setebal 5 sentimeter tanpa ampun Bukan keberatan karena tugasnya, tapi tuntutan yang mengharuskan kami berdiri tepat pada posisi subjektif yang dipikirnya paling benar, setidaknya untuk urusan duduk pun, kalian yang kalau saja sekelas dengan saya, harus menyamakan garis hubung keramik dengan sudut kursi yang mustahil sama. 

Sudah. Lupakan. Saya ingin melompat jauh, jauh, sangat jauh ke dimensi lain, tanpa bayangan dosen jenius itu. 

PERISA HATI 

Ini judul cerita kita pagi ini. Terkesan murahan, tanpa nyawa, tapi manis. 

Ujar kalian,“Apalagi ini, tak lepas pembicaraan manusia tentang objek ini. Gampangan, tak berdasar, lemah, tersakiti, terjangkiti” 

Biarlah, itu urusan saya. Selain Tuhan, Ibu dan diri saya sendiri, tidak akan ada yang benar-benar memahami dan mengerti bagaimana situasi hati saya saat ini. Karena teman mereka berdinamika spotan, tak ada yang benar-benar tau komplit ceritanya, teman SMP, SMA, dan sebangsa mahasiswa sekarang, hanya tau sepotong-sepotong. Tapi Ibu merangkumnya utuh, beliau punya CD asli, bukan bajakan dan menonton film ini dari awal hingga akhir, dan Tuhan adalah director-ny. Lalu saya actress. Saya yang mainkan dan saya akhiri sesuai scenario apik dari Lauhul Mahfuz.

Huh. Apalagi itu, Perisa Hati?

Entahlah. Yang pasti, saat ini di otak saya sedang digelar sebuah layar super besar, tipis, namun jauh lebih anggun dan elegan daripada teknologi canggih sekaliber IMAX. Di dalamnya dimainkan sebuah film klasik, berlatarkan musim dingin di negeri Sakura, salju, mereka turun satu perstu da mendarat dengan lembut di tempat tak berpenghuni itu. It’s such an absolute tranquility.

Bayangkan salju-salju itu. Itulah bentuk konkret dari cinta jika sepemahaman kalian selama ini cinta itu abstrak tak berupa.

Salju, di suatu musim benda putih dingin itu memenuhi setiap sudut halaman rumah anda. Tak ada satu manusia pun yang mengijinkan si salju masuk dengan sengaja melubangi atap mereka. Salju tetap di luar dan tatap cantik di sana. Tapi salju punya filosofinya.

Sadar tidak sadar di musim dengan udara sekian angka di bawah 0 derjat Celsius anda tidak bisa pilih-pilih tempat melangkah. Salju yang tadinya putih dan cantik itu, tiba-tiba bisa hitam legam, setelah diinjak. Jangan bilang yang di atas pohon akan selamat. Kalau tidak salah ada hewan-hewan bersayap yang punya kebiasaan buang hajat dengan posisi macam itu. Jadi ketinggian juga tak menjamin kebersihan dan kehigienisannya toh.

Lalu salju macam apa yang bisa anda kepal untuk dibuat es serut berperisa yang tak berefek bolak-balik kamar mandi per sekian menit?

Hanya satu caranya. Datangailah si hujan salju dan tengadahakan tangan anda tepat dibagian dada, pastikan tidak ada satupun benda lain masuk selain benda putih bertekstur lembut itu. Kepal dan bentuk sesuai yang anda ingin. Peluk, dan berlarilah ke dalam rumah, buka lemari pendingin dan bekukan ia disana. Atur suhu nya, jangan maksimal, karena bisa saja nanti bentuknya berubah, atau jangan terlalu rendah, karena mungkin dia akan hancur. Atur sebaik yang anda mampu melakukannya dan tunggu beberapa waktu. Jangan nikmati saat salju di luar masih dengan lebatnya membombardir halaman anda, tunggu hingga musim panas tiba, sirami perisa,  anda tau itulah saat yang paling baik menyantap es salju anda.

Tumblr_lxm8s1ehxs1qby2kxo1_500_large

Bagi saya hati itu tak lebih dari es salju. Butuh sejumlah pengorbanan untuk mendapatkan hati yang benar-benar suci dan bersih. Hati harus diwarnai dengan warna yang tepat, oleh karena itu warna dasarnya harus putih bersih. Jangan terlalu berlebihan mewarnai hati, karena bisa jadi akan sulit menemukan corak aslinya. Cinta yang ada di dalam hati harus dirasakan tepat waktu, jangan terburu-buru dan jangan terlambat untuk merasakannya. Hati dan cinta seperti daging dengan tulang, cinta datang dari dalam dada di mana hati bersemayam di ruangannya, cinta dibawa dengan pengorbanan dan penantian, cinta dibentuk untuk kemudian dibekukan. Cinta disimpan dan diatur kapasitasnya. Dan pada akhirnya cinta membuktikan kalau takdir itu benar adanya.

 

 

 

 

 

 

 

12 February 2012

Jika sekiranya malam ini, pada akhirnya saya berkesempatan memposting tulisan ini di space saya, sungguh ini terjadi absolutely berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Saya (hanya) ingin berbagi sekelumit perjalanan singkat saya hari ini. Even you don’t wanna know.

That’s my short journey ;)

05.30 Teng!

Kehidupan saya dimulai dengan se-abrek tanggung jawab yang secara sadar tidak sadar, mau tidak mau harus saya selesaikan hari ini. MASAK!

Jadwal piket masak asrama (baca: wisma amanah 1) memaksa saya untuk beringsut dari kasur nyaman nan empuk lebih awal sekian ribu detik dari biasanya :(

Dan satu hal yang membuat denyut di kepala saya sedikit meningkat intensitasnya pagi ini. Saya baru ingat, kalau rupa-rupanya saya lupa untuk men-shut down benda cantik (baca:Laptop) ini semalam . Benar saja, sewaktu saya cek ulang, touchpad nya resmi mengijinkan saya menerobos pertahanannya tanpa menggeser button power (biasanya kalau mau booting begitu).

Wajar saja, kalau tiba-tiba peri biru, putih, kuning atau apalah itu jenisnya tiba-tiba muncul mereka akan mengizinkan laptop berbalut chrome dengan label HP ini berbicara menyampaikan kemarahannya:

HP: OK Anna. This is your life and this is my life. It’s not only about you nor about me. So, you have to respect me as well as I respect you.

ME: But, You’re mine! I have absolutely right to do what I love to do.

HP: Uh-huh? Then, I prefer to suicide, it’s better than you destroy me partly!

Hum, I really have no idea. As I know, LIFE is something about what you meet and what you create with them, and as long my life, HP is one thing which never betray me to submit all of my “nothing” ideas.

Peduli atau tidak, saya sudah geser pointer sana sini dan berakhir di kotak merah bagian tengah bertuliskan “shut down”. HP sudah beranjak ke alam bawah sadarnya. MATI.

 

Kehidupan saya berlanjut ke arah angka 15.00

Saya sedang berada di angkot seusai menghabiskan waktu beberapa saat, untuk suatu kegiatan yang kami sebut dengan HALAQAH.

Tujuan angkot ini, Pasar Raya Padang, tapi saya tidak akan menghabiskan waktu di tempat itu. Tujuan saya, GRAMEDIA PADANG.

Ada sedikit cerita dibalik kedatangan saya ke Toko Buku terbesar di Sumatera Barat ini. Saya baru terima bonus WESEC (West Sumatera English Competition), tidak besar, genap RP 100.ooo,oo tapi cukuplah untuk membeli satu atau dua buah buku. Setidaknya saya tidak harus ke ATM hari ini.

Saya belum menentukan pilihan atas buku apa yang akan menjadi tujuan saya, yang pasti dengan keindependenan saya hari ini, saya bisa memilih beberapa buku cukup lama, setidaknya untuk memperoleh buku dengan harga ramah dan berkualitas.

Rak buku pertama yang saya sambangi adalah, FILSAFAT, deretan buku pertama yang setiap pengunjung lantai dua pasti akan temui jika mereka bergerak dari lantai dasar. Beberapa buku, hampir menggoda saya, jika saja saya tidak membalik dan memfokuskan pandangan ke bagian pojok kiri bawah buku itu,

“terlalu mahal untuk buku sejenis ini”

Selanjutnya perhatian saya bepindah pada kumpulan buku-buku politik dan sejarah. Di sini sebuah buku karangan John J. Mearshimer dan Stephen M Walt membuat saya terpaku cukup lama, menarik membaca buku seputar Lobby Israel yang Merugikan Amerika secara financial dan pertahanan. Hampir saja buku ini saya angkut ke hadapan wanita-wanita berkemeja putih (baca:kasir) kalau tidak melihat Barcodenya seharga Rp 155.000. KEsan mendalam saya pada buku ini, ia memiliki daftar pustaka hingga 167 halaman. Bayangkan, mungki buku lain dengan ketebalan macam itu, bisa setara dengan lembaran 5o-ribuan.

Hingga pada akhirnya hati saya merengek untuk membawa dua buah buku, dan ini mereka  :

 

1311129429123456636_300x450

Fk

 

 

Japanese Rose (Mawar Jepang)

 

I just finished a fiction novel titled Mawar Jepang authored by a passion Japanese writer, Rey Kimura. She actually enjoys her job as a lawyer, yet her beautiful finger guide this woman to write many incredible books, and Mawar Jepang is the one of them. So, you will have a review in the following short paragraphs as a result of my effective time last night. Enjoy it :)

18511-mawar_jepang_kisah_p

Novel which is opened by a historian (Mayumi) in the end peels the bittersweet of the Second World War which was opened at 1942 when the Japanese soldier bombed Pearl Harbor as United State’s air-force base. This attack made the United State soldier fell into a life-sucking abyss and swore in one last vengeful on Japan. Through it worst moment, Japan continuously took most control of the world at the time. But in fact the victory was only possessed by Emperor and Japan Military Soldier not for all the Japanese. Rei Kimura takes a Japanese woman’s angle named Sayuri Miyamoto as the main character in her novel.

Sayuri Miyamoto was a pilot of Kamikaze who acquiesced herself for Japan Emperor. The position as pilot took a long journey which is not easy to digest nowadays. As most of us might have known, a pilot is identical with a man who wears black-white uniform and use to sit in the special place of an airplane. Now or many time ago. Sayuri broke this rules in her own way, she had a big avenge to United State that I bet no one know how was she felt. You don’t have to be afraid that it will be as Japan‘s propaganda to us and create Indonesian hypocrite as well, even it bravely scratch Japanese Military’s bad ability.

Furthermore this novel is adequate to brings the world war tension in your unconscious, Rei Kimura enclose some tragic romance when Sayuri and Takushi had to crashed themselves as the main risk of being pilot in Kamikaze, another tragic journey was also suffered by Reiko (Sayuri’s friend) and her fiancée (Yukio). Yukio has died before that man finished his mission in South East Asia.

As a whole this novel binds kinship spirit, romance, patriotism, even betrayal with a graceful way.  As a conclusion, indeed, Rei Kimura succeeds string up a novel which is great to understand and make sure anybody realize how horrible was the World War it was.

                                                                                                                                       

 

 

Go-getter

The-go-getter-9780805065626

My obligatory consultation had reached an impasse. I had guessed it, yet some considerations took me to this place (college). And… my friend called her:

“Maaf, hari ini Saya gak bisa. Saudara bisa temui saya minggu pertama perkuliahan saja ya”

My Evil     : Fiuhh. Substantively, I was not being here in a jiffy Mam. 

My Angel   : I’m the go-getter one. It’s just a small-beer. Never give up!

My Angel è WIN!!!

A Journey

Arah hujan yang berlawanan  dengan bus yang saya tumpangi membuat bulir-bulir bening itu bergerak diagonal dengan muara sudut kaca bagian kanan bawah.

Hujan tetap saja seperti itu sejak dari belasan tahun yang lalu (setidaknya sejak saya tau, kalau air yang datang seperti itu namanya hujan), tak bisa datang satu-satu, keroyokan, berpacu pada metal-metal dan aspal jalanan, kemudian kandas. Untuk apa kalian datang jauh-jauh dari atas sana?

Ujar hujan, “ Kami gemar bermain terjun bebas dan adu lari”

Aku, “ Melelahkan!!!”

Ujar hujan(lagi),” Tenang saja, tak lama lagi kami akan berevaporasi. Mungkin kau juga tak akan mengenali kami. Hmm. Kalau kau tau betapa menyenangkannya evaporasi itu, mungkin akan lebih baik bagi mu untuk menjadi satu diantara kami”

Aku, “Kenapa?”

Hydro_cycle

“Karena saat itu, matahari seperti menarikmu, dan saat itulah kau dijemput gerombolan angin  yang menari-nari ke angkasa, entah apa yang terjadi tiba-tiba kami sudah bertemu lagi, sama sekali bukan tempat seperti ini, bahkan jika kami lihat ke bawah, ada beberapa photographer yang sibuk jepret sana sini. Haha. Kalau tidak salah kalian sebut kami awan ya? Ya. Awan. Kami suka nama itu”

“Lalu? Apa bangganya jadi awan?”

Ujar hujan(lagi),” Beberapa pasang mata biasanya memandangi kami pada ketinggian tertentu. Biasanya mereka berdasi dan berkacamata, antara kami dan mereka ada jendela-jendela kecil, cukup tebal dan jernih. Mereka tak bisa menyentuh, butuh lebih dari sekedar pengorbanan untuk itu, hanya bisa berdecak kagum. Dan, jika sudah di atasa sana, kau bebas mau terjun dimana pun. Sekedar informasi, setidaknya aku sudah 1000 kali keliling dunia”

“Huh???”

Inspired by : A short journey Solok-Padang, in a heavy rain

 

buzZZ --"

Beberapa kali dengkuran nenek seperti tidak ada jedanya. Bahkan frekuensinya sekarang mulai meningkat lagi. Aku hanya takut menyinggung perasaannnya. Dia sudah terlalu tua, untuk diingatkan persoalan macam itu. Satu-satunya harapanku dengan membenamkan kepala sejadi-jadinya pada benda lembut yang biasa aku sebut bantal, tapi tetap saja, dengkuran nenek berkekuatan sekian dB itu tidak redam begitu saja. Saking kerasnya bunyi dengkuran ini, sebagian besar udara yang menyelip disela-sela kapas bantal sudah dikuasainya. Benar-banar rambatan yang sempurna, jangankan hilang, kali ini dengkuran nenek terdengar lebih nyaring dan bening. Suara-suara macam cericit tikus dan erangan kucing tetanggapun jadi tersaring sempurna. Sialan, bantal apa ini? Malah jadi seperti spoons yang ada di bagian luar earphone-ku.

Ah sudahlah, lebih baik aku coba baca beberapa ayat An Naba’ yang sudah beberapa hari ku serap. Haa, benarkan. Tiba-tiba sudah subuh saja :)

Kadang-kadang setan juga perlu dikelabui --“